Ngatiyana: Kartini Masa Kini Lahir dari Madrasah Keluarga
Wali Kota menegaskan tanggal 21 April menjadi angka sakral yang mengingatkan semua pihak bahwa derajat hidup manusia, baik laki-laki maupun perempuan, adalah sama rata. Stigma zaman dahulu yang menganggap wanita sebagai kelompok yang lemah akhirnya mampu didobrak dan diruntuhkan oleh sosok perempuan itu sendiri.
"Ialah pejuang bangsa, R.A. Kartini. Melalui sekolah untuk perempuan pribumi yang berdiri di Jepara dan Rembang kala itu, beliau meneriakkan suara pada dunia bahwa setiap wanita juga memiliki hak yang sama dalam berbagai bidang dan kesempatan. Perjuangan itu menjadi simbol perlawanan terhadap paham patriarki dengan mengedepankan peran perempuan dalam pembangunan bangsa," terang Ngatiyana.
Wali Kota melanjutkan, hari ini, sosok Kartini itu terus bertumbuh dan bertransformasi dalam berbagai bentuk, melalui gerakan sosial, kemasyarakatan, pendidikan, spiritual, hingga lingkup terkecil yakni keluarga.
"Setiap Kartini terus bersuara dan mendedikasikan setiap detik dalam hidupnya untuk pembangunan bangsa," ucap Ngatiyana.
Dalam lingkup terkecil misalnya, kita dapat melihat sosok ibu yang senantiasa tak henti sejak mata terbuka di pagi hari hingga kembali terlelap dalam istirahat.
"Hidupnya tak lagi untuk diri sendiri, namun bagi keluarga, suami, dan anak-anak tercintanya. Inilah peran Kartini yang sesungguhnya, tidak selalu mengenai hal besar, namun mulai dari hal kecil yang membawa dampak besar dalam perubahan," tegas Ngatiyana.
Melalui madrasah keluarga, setiap Kartini memegang peran sebagai kawah candradimuka yang mencetak setiap anak agar dapat menjadi bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab, bermoral, dan memiliki daya saing intelektual.
"Nilai disiplin, empati, dan etos kerja ditanamkan sejak dini dari rumah," ujarnya.
Kota Cimahi hari ini, menurut angka, dipadati hampir 600.000 penduduk. Sebanyak 35 persen di antaranya adalah perempuan dengan usia produktif. Melihat angka ini, jumlahnya sangat masif. Namun demikian, lagi-lagi bukan tentang kuantitas, melainkan tentang kualitas.
"Bagaimana perempuan, dengan daya, karya, dan usahanya mampu menjadi agen pemberdaya yang memberikan manfaat dan dampak nyata bagi sekitar, atau paling tidak bagi keluarganya. GOW misalnya, terbukti memberikan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat," tutur Ngatiyana.
Wali Kota menutup dengan ajakan agar semangat Kartini diterjemahkan menjadi kerja konkret.
"Perempuan Cimahi harus terus maju, berinovasi, dan berkontribusi, karena kemajuan kota sangat ditentukan oleh kualitas peran perempuannya," pungkas Ngatiyana. (Rustandi)






Posting Komentar