Pemkot Cimahi Berencana Bangun Bundaran di Perempatan Citeureup
Endang optimis bahwa pembangunan bundaran Citeureup akan mampu mengurai kemacetan yang terjadi di kawasan tersebut.
"Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka mengurangi kemacetan adalah dengan membangun simpang yang tadinya terjadi crossing tapi kita bangun Bundaran," kata Endang saat menjadi narasumber dalam talk show yang digelar bersamaan dengan event “Halalbihalal Rock n Roll Indonesia", Minggu (05/04/2026)
Menurut Endang, terdapat 10 titik kemacetan di Kota Cimahi, salah satunya di perempatan Citeureup yang ditimbulkan akibat terjadinya crossing.
"Titik kemacetan di kota ini ada sekitar 10 titik, salah satunya di simpang Jati. Alhamdulillah sudah mulai terurai, dan ke depan, yang jadi perhatian kita yaitu jalan Kolonel Masturi," imbuhnya.
Untuk merealisasikan wacana pembangunan bundaran Citeureup, Dishub Kota Cimahi saat ini sedang melakukan koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
"Koordinasi tersebut harus dilakukan, mengingat salah satu ruas jalan yang berada di perempatan Citeureup merupakan kewenangan Pemprov, yakni jalan Kolonel Masturi," terang Endang.
Endang menyatakan bahwa pembangunan bundaran Citeureup merupakan salah satu upaya untuk mengatasi dinamika dan problematika lalu lintas di Kota Cimahi.
"Dengan keterbatasan lahan untuk penambahan jalan, maka Endang yakin pembangunan bundaran dapat menjadi solusi mengatasi kemacetan akibat crossing di perempatan," tutur Endang.
Kota Cimahi telah mengalami peningkatan jumlah penduduk dan kendaraan yang signifikan dalam 25 tahun terakhir, namun kapasitas ruas jalan hampir tidak terjadi penambahan. Endang berharap bahwa pembangunan bundaran Citeureup dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di kota tersebut.
"Dalam 25 tahun terakhir, Kota Cimahi hanya mampu menambah jalan baru sepanjang 1,6 kilometer, yakni jalan Aruman dan jalan Demang Hardjakusumah. Sementara jika ditotal seluruh jalan yang ada, baik jalan nasional, jalan kota, hingga jalan lingkungan, hanya berkisar 308 kilometer," ucap Endang.
Endang bilang, pertumbuhan populasi penduduk dan jumlah kendaraan yang begitu signifikan, tidak sebanding dengan kapasitas ruas jalan yang hampir tidak terjadi penambahan.
"Jumlah penduduk awal 2001 itu hanya 300 ribu jiwa, saat ini sudah hampir menyentuh 600 ribu jiwa, sudah hampir 100 persen peningkatannya selama 25 tahun," ungkapnya.
Peningkatan jumlah penduduk dan kendaraan ini tentunya berdampak pada kemacetan di kota tersebut. Oleh karena itu, Endang yakin bahwa pembangunan bundaran Citeureup dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di kota tersebut.
Dishub Kota Cimahi telah melakukan pemetaan untuk mengetahui titik-titik kemacetan di kota tersebut. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa perempatan Citeureup merupakan salah satu titik kemacetan yang paling parah.
Endang berharap bahwa pembangunan bundaran Citeureup dapat segera terealisasi dan dapat mengatasi kemacetan di kota tersebut. Dengan demikian, Kota Cimahi dapat menjadi lebih nyaman dan aman bagi masyarakat," tambahnya.
"Kota Cimahi memiliki tiga kecamatan, yaitu Cimahi Utara, Cimahi Tengah, dan Cimahi Selatan. Dengan pembangunan bundaran Citeureup, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kota tersebut," tandas Endang. (Rustandi)





Posting Komentar