Hadapi Ancaman Bencana, Pemkot Cimahi Matangkan Kesiapsiagaan Pelajar
Tahun ini pelaksanaan SMAB difokuskan di SMP Negeri 4 Kota Cimahi. Sebanyak 1.580 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan tenaga kependidikan mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan kebencanaan.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan potensi ancaman, prosedur evakuasi, hingga praktik penanganan darurat di lingkungan sekolah. Peserta diajak memahami peran penting kesiapsiagaan sejak dini.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana hadir langsung menutup kegiatan pada Jumat 22 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang tanggap terhadap risiko bencana.
Menurut Ngatiyana, pendidikan kebencanaan sejak usia sekolah akan menumbuhkan kesadaran kolektif di masyarakat. Siswa diharapkan bisa menjadi penggerak informasi mitigasi di keluarga dan lingkungannya.
“Kegiatan SMAB ini diharapkan melahirkan agen perubahan yang mampu menyebarkan semangat waspada dan kesiapsiagaan di sekitar mereka,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Cimahi berada di jalur Sesar Lembang sehingga potensi gempa bumi cukup tinggi. Selain itu, perubahan cuaca ekstrem sering memicu banjir dan longsor di sejumlah titik.
Data Pemkot mencatat 48 kejadian bencana terjadi di Cimahi selama Januari hingga April 2026. Kerusakan meliputi rumah warga, fasilitas umum, hingga infrastruktur jalan akibat hujan deras dan tanah labil.
Ngatiyana menyebut angka tersebut menjadi pengingat agar kewaspadaan tidak diabaikan. Namun ia meminta masyarakat menyikapinya dengan langkah nyata, bukan rasa takut yang berlebihan.
“Kunci utama ada pada kesiapsiagaan. Jika warga paham mitigasi dan evakuasi mandiri, dampak korban jiwa bisa ditekan,” tegasnya.
Program SMAB sendiri dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu fasilitas sekolah aman, sistem manajemen penanggulangan bencana, serta penguatan pendidikan pengurangan risiko bencana di satuan pendidikan. (Rustandi)







Posting Komentar