Wali Kota Ngatiyana: Cimahi Siap Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Nasional
Hal itu disampaikan Walikota Cimahi H. Ngatiyana saat membuka kegiatan Implementation Support Mission World Bank_ dalam pelaksanaan Proyek ISWMP, di Mal Pelayanan Publik,Senin (18/05/2026)
Wali Kota Cimahi Ngatiyana, menegaskan, komitmen Cimahi untuk menjadi kota percontohan dalam pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.
"Meski tergolong kota kecil, Cimahi justru menjadi tempat percobaan bagi daerah lain dalam hal pengelolaan sampah. Ngatiyana menyampaikan terima kasih kepada ISWMP atas dukungan dan pendampingannya agar pengolahan sampah di Cimahi ke depan bisa berjalan lebih baik lagi," terang Ngatiyana.
Tantangan yang dihadapi tidak ringan. Kota Cimahi hanya memiliki tiga kecamatan dan lima belas kelurahan, namun penduduknya kini sudah lebih dari enam ratus ribu jiwa. Data terakhir mencatat jumlah penduduk mencapai enam ratus empat belas ribu orang.
"Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat volume sampah terus meningkat. Saat ini, Cimahi menghasilkan sekitar 250 ton sampah setiap hari. Angka ini memang jauh di bawah Kota Bandung yang mencapai hampir 2.000 ton per hari, namun tetap menjadi beban besar bagi kota seluas Cimahi," tutur Ngatiyana.
Permasalahan sampah bukan hanya terjadi di Cimahi, melainkan menjadi persoalan nasional, khususnya di Jawa Barat. Saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga tengah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut, dan Cimahi didorong untuk menjadi salah satu contoh daerah yang berhasil.
Untuk jangka panjang, program besar pengolahan sampah menjadi energi listrik tengah disiapkan. Lokasinya direncanakan di Sarimukti dan sudah dikoordinasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Program ini ditargetkan berjalan pada tahun 2029," tambah Wali Kota.
"Namun, Ngatiyana menegaskan Cimahi tidak bisa menunggu hingga 2029. Untuk tahun 2026, 2027, dan 2028, kota ini harus memiliki solusi nyata. Karena itu, dengan adanya program ISWMP dan USBNB, Cimahi ditargetkan menjadi kota pertama yang mampu menyelesaikan persoalan sampahnya sendiri," tegasnya.
Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup, Kemendagri, dan seluruh pihak yang mendukung Cimahi. Sinergi ini diharapkan mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh dari hulu hingga hilir.
"Untuk mendukung target _zero to TPA_, Pemerintah Kota Cimahi sudah memulai pemilahan dan pengolahan sampah dari hulu. Titik awalnya berada di Setiong dan akan terus dikembangkan ke wilayah lainnya agar sampah bisa diolah sendiri tanpa dibuang ke TPA," kata Ngatiyana.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Kota Cimahi yang bersih dan berkelanjutan. Harapannya, Cimahi tidak lagi bergantung pada pembuangan akhir dan mampu mengelola sampah secara mandiri.
"Ngatiyana mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berperan aktif. Mulailah memilah sampah dari rumah, kurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan dukung program pemerintah agar target _zero to TPA_ bisa tercapai lebih cepat," ajaknya.
Ia menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga Cimahi. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama.
"Wali Kota berharap Cimahi dapat menjadi kota bersih yang mandiri dalam pengelolaan sampah dan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia," tutup Ngatiyana. (Rustandi)







Posting Komentar