Wali Kota Ngatiyana Hadiri Food Festival dan Silaturahmi Akbar Paguyuban Jawa Tengah di Cimahi
Dalam sambutannya, Ngatiyana menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan silaturahmi besar tersebut. Ia menyebut Cimahi sebagai kota kecil yang justru kaya akan keberagaman budaya dan semangat persaudaraan antarwarganya.
“Cimahi ini hanya memiliki tiga kecamatan, tetapi penduduknya sudah lebih dari 600 ribu jiwa. Bahkan sekitar 50 persen masyarakatnya berasal dari Jawa. Maka kebersamaan seperti ini sangat penting untuk terus dijaga,” ujar Ngatiyana.
Ia juga menyinggung program mudik gratis yang rutin dilaksanakan Pemerintah Kota Cimahi setiap tahun. Tahun ini, Pemkot Cimahi memberangkatkan sekitar 1.200 warga menggunakan 19 bus menuju berbagai wilayah di Jawa Tengah.
“Ini bentuk perhatian kepada warga perantauan agar bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Mudah-mudahan tahun depan rezekinya ada lagi dan bisa terus kita lanjutkan,” katanya.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, Ngatiyana mengaku memiliki kedekatan dengan sejumlah paguyuban Jawa Tengah, termasuk komunitas Banyumasan. Menurutnya, keberadaan paguyuban menjadi simbol kuatnya persatuan masyarakat perantauan di Kota Cimahi.
“Walaupun saya orang Jogja, saya sudah ikut menjadi bagian dari kebersamaan Banyumasan. Inilah bentuk persatuan masyarakat di Kota Cimahi. Yang penting kita hidup rukun dan damai di tanah perantauan,” ungkapnya.
Ngatiyana mengingatkan pentingnya menjaga budaya dan adat istiadat tanpa melupakan tempat tinggal saat ini. Ia menekankan nilai gotong royong yang menjadi perekat kehidupan masyarakat urban.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita harus tetap menjaga budaya daerah, tetapi juga menghormati budaya dan kehidupan masyarakat di Kota Cimahi,” tambahnya.
Menurutnya, kegiatan Food Festival dan Silaturahmi Akbar bukan hanya acara seremonial. Kegiatan ini menjadi ruang mempererat ukhuwah dan semangat gotong royong antarwarga Jawa Tengah di Kota Cimahi.
Festival kuliner yang digelar dinilai menjadi sarana mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya daerah. Kegiatan sosial seperti ambulans peduli umat juga disebut sebagai bentuk nyata kepedulian paguyuban.
“Kerukunan akan melahirkan kekuatan, sedangkan perpecahan akan membawa kerusakan. Maka semangat guyub, rukun, dan saling membantu harus terus dijaga,” tutupnya. (Rustandi)








Posting Komentar