Libur Panjang Stone Garden Cipatat KBB Diserbu Mahasiswa dan Turis Mancanegara
Arus kunjungan wisatawan ke situs geologi purba itu meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya pelancong umum, ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga datang khusus menelusuri jejak geologi karst Rajamandala.
Stone Garden yang merupakan bekas dasar laut jutaan tahun lalu kini berubah menjadi laboratorium alam. Kawasan batuan purba ini menjadi tujuan studi lapangan bagi mahasiswa yang mendalami ilmu kebumian.
Pengelola Stone Garden mencatat sedikitnya 60 mahasiswa Universitas Padjadjaran melakukan kunjungan edukatif. Mereka melakukan observasi langsung struktur batuan dan fosil yang tersebar di area karst.
Jumlah lebih besar datang dari Universitas Pertamina dengan 200 mahasiswa. Rombongan tersebut menjadikan Stone Garden sebagai lokasi praktik geologi untuk mata kuliah lapangan.
Tak ketinggalan, 150 mahasiswa Universitas Lampung juga memilih Stone Garden sebagai destinasi studi. Mereka mempelajari sejarah pembentukan batuan dan proses geologi kawasan Rajamandala secara langsung.
Selain dari kalangan akademisi, lonjakan pengunjung juga didominasi wisatawan luar daerah. Sebagian besar berasal dari Sukabumi dan Cianjur yang datang memanfaatkan jalur kereta api Sukabumi-Cipatat.
Setibanya di Stasiun Cipatat, wisatawan melanjutkan perjalanan ke Stone Garden menggunakan angkutan umum. Rute ini menjadi pilihan favorit karena lebih ekonomis dan praktis bagi rombongan.
Pengelola Stone Garden, Suryadi, mengatakan peningkatan kunjungan tidak lepas dari kolaborasi dengan para sopir angkot di Cipatat. Para pengemudi aktif menawarkan paket wisata terpadu kepada penumpang.
Menurut pria yang akrab disapa Yadi itu, paket wisata menghubungkan Stone Garden dengan destinasi Sanghyang Kenit. Langkah ini efektif memperluas promosi sekaligus menggerakkan ekonomi warga sekitar.
“Kerja sama ini cukup efektif membantu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Stone Garden sekaligus mendukung perekonomian masyarakat sekitar,” kata Yadi kepada Media Rabu (08/07/2026)
Sebagai bentuk apresiasi, pengelola menyediakan fasilitas khusus bagi para sopir angkot. Salah satunya kopi gratis sebagai sarana mempererat kemitraan dan menjaga semangat kolaborasi.
Di tengah naiknya jumlah wisatawan, pengelola memilih tidak menaikkan harga tiket masuk. Tarif umum tetap Rp14 ribu per orang, pelajar Rp8 ribu, dan rombongan yang menggunakan angkot mendapat tarif khusus Rp10 ribu.
"Kebijakan ini diambil untuk menjaga aksesibilitas wisata. Stone Garden ingin tetap menjadi destinasi edukasi yang ramah bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum,"kata Yadi.
Dari sisi fasilitas, pengelola fokus membenahi sarana pendukung ketimbang menambah wahana baru. Sejumlah gazebo diperbanyak, pos pantau di area puncak ditingkatkan, serta sekretariat dipindahkan agar tidak terjadi pembayaran tiket ganda bagi wisatawan yang melanjutkan ke Indiana Camp.
Tak hanya wisatawan domestik, Stone Garden juga kerap dikunjungi turis mancanegara. Mereka datang untuk kepentingan penelitian geologi maupun fotografi lanskap yang menjadi keunggulan kawasan karst tersebut.
Ke depan, Stone Garden didorong menjadi bagian penting pengembangan Geopark Rajamandala yang mencakup Padalarang, Cipatat, hingga Cipongkor. Langkah ini diharapkan mengangkat kawasan Rajamandala setara Geopark Ciletuh.
"Untuk mendukung target itu, pengelola telah menyiapkan paket wisata terpadu Stone Garden, Gua Pawon, dan Sanghyang Kenit. Paket dirancang agar wisatawan tinggal lebih lama sehingga memberi dampak ekonomi lebih luas bagi warga sekitar," tandas Yadi. (Rustandi)






Posting Komentar