Jangan Berhenti di Seremoni! Paguyuban Paku Sunda Soroti Nasib Pohon Pengganti RSUD Cibabat
Ketua Paguyuban Paku Sunda Kita Cimahi, Alit Nurzaelani, mengatakan keberhasilan penanaman pohon tidak dapat diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam dalam sebuah kegiatan simbolisasi.
Menurutnya, persoalan paling penting justru muncul setelah kegiatan penanaman selesai. Pohon harus dirawat, dipantau dan dipastikan mampu bertahan hidup dalam kondisi lingkungan perkotaan.
“Yang paling penting bukan saat pohonnya ditanam, tetapi bagaimana setelah itu. Apakah dirawat, apakah hidup dan apakah nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan,” kata Alit.
Alit juga menyoroti pemilihan ukuran dan jenis pohon yang ditanam. Menurutnya, bibit untuk kawasan publik seharusnya cukup kuat menghadapi kondisi lingkungan, terlebih kawasan depan RSUD Cibabat berada di sisi jalan raya dengan aktivitas kendaraan yang cukup tinggi.
Ukuran bibit sekitar 2 hingga 5 meter, kata Alit, dapat menjadi salah satu pertimbangan. Selain itu, sistem perakaran juga harus diperhitungkan agar pohon tidak justru merusak trotoar, saluran air maupun fasilitas umum.
Pemilihan jenis pohon juga dinilai tidak boleh hanya mengejar keindahan. Pohon yang ditanam harus memiliki fungsi ekologis, terutama sebagai peneduh dan membantu mengurangi dampak polusi udara di kawasan perkotaan.
“Jangan hanya mengejar tampilan hijau. Pohon harus punya fungsi ekologis yang jelas dan bisa bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Paguyuban Paku Sunda Kota Cimahi menilai kawasan rumah sakit seharusnya menjadi contoh bahwa pembangunan fasilitas publik dapat berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.
Pohon, menurut Alit, bukan sekadar ornamen kota. Keberadaannya memiliki fungsi penting dalam menyerap karbon dan polusi, menghasilkan oksigen, membantu tata air serta menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan.
Karena itu, pihaknya akan terus memantau keberadaan pohon pengganti di kawasan RSUD Cibabat. Ukuran keberhasilan penghijauan, tegasnya, bukan jumlah pejabat yang hadir dalam seremoni penanaman, melainkan berapa banyak pohon yang benar-benar hidup, tumbuh dan terawat.
“Simbolisasi penanaman hanyalah titik awal. Yang harus dibuktikan adalah keberlanjutannya,” pungkas Alit. (**)




Posting Komentar