Dialog Budaya Cimahi jadi Momentum Penguatan Ekosistem Kebudayaan Berkelanjutan
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menyampaikan bahwa kebudayaan harus menjadi fondasi utama pembangunan. Bukan hanya dilestarikan, tetapi juga diberdayakan untuk ekonomi dan pembentukan karakter masyarakat.
“Pemajuan kebudayaan bukan hanya tentang pelestarian, tetapi juga pemberdayaan ekonomi dan pembentukan karakter masyarakat. Kolaborasi lintas sektor adalah kunci agar kebudayaan menjadi sumber daya strategis bagi pembangunan daerah,” tegasnya.
Pemkot Cimahi menyiapkan skema pembiayaan inovatif untuk revitalisasi infrastruktur budaya. Selain APBD, Pemkot membuka peluang pendanaan alternatif melalui CSR dan sponsorship swasta. “Dunia usaha harus menjadi bagian dari gerakan pemajuan kebudayaan,” ujarnya.
"Program revitalisasi diarahkan pada pengembangan ruang-ruang ekspresi publik, gedung kesenian, serta peningkatan kapasitas SDM budaya melalui pendidikan dan pelatihan. Ini untuk memastikan potensi seni dan budaya Cimahi hidup dan berkelanjutan secara sosial maupun ekonomi," tandas Ngatiyana.
Wali Kota juga mengapresiasi partisipasi komunitas, seniman, dan budayawan yang hadir. Menurutnya, Cimahi memiliki potensi luar biasa dalam seni, budaya, dan kreativitas yang harus dijaga bersama.
"Diskusi publik ini menjadi momentum penguatan sinergi kebijakan antara pemerintah dan masyarakat budaya. Agar pembangunan di Cimahi tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga penguatan nilai-nilai lokal dan daya saing berbasis budaya," kata Ngatiyana.
Beberapa aspirasi yang muncul dalam dialog antara lain kebutuhan ruang ekspresi yang representatif, pelatihan manajemen seni, serta perlindungan kekayaan intelektual karya budaya.
Pemkot merespons dengan menyatakan akan memasukkan usulan tersebut dalam perencanaan pembangunan. Salah satunya melalui alokasi anggaran khusus dan program pendampingan bagi komunitas.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Cimahi, Raden Lucky Sugih Mauludin, S.E., M.M., menambahkan bahwa penguatan budaya juga mencakup literasi budaya. Salah satunya dorongan penggunaan aksara Sunda pada papan nama jalan dan ruang publik.
Dialog ini juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan UMKM dan dunia usaha. Tujuannya menghubungkan produk budaya dengan ekonomi kreatif lokal yang berdaya saing, sehingga seniman dan pelaku budaya memiliki mata pencaharian yang layak.
"Melalui pendekatan Pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media, Pemkot bertekad membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan," ujarnya.
Dengan semangat kolaboratif ini, Kota Cimahi ditargetkan mampu tampil sebagai kota budaya yang inklusif, kreatif, dan berdaya saing. Kebudayaan diharapkan menjadi fondasi utama pembangunan berkelanjutan. (Rustandi)








Posting Komentar