Cimahi Bakal Punya 3 Pusat Pengolahan Sampah, Mesin Baru Olah 80 Ton per Hari
Langkah ini menjadi angin segar bagi Kota Cimahi yang selama ini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah akibat keterbatasan lahan dan tingginya kepadatan penduduk.
"Salah satu gebrakan yang disiapkan adalah pembaruan mesin pengolahan sampah di TPST Santiong dengan teknologi terbaru, fasilitas tersebut ditargetkan mampu mengolah sampah hingga 75–80 ton per hari," Wali Kota Cimahi Ngatiyana,saat di Wawancara, Jum'at (23/10/2026)
Tak berhenti di situ, TPST Lebak Saat juga akan diperkuat dengan mesin baru yang ditargetkan terpasang dan mulai beroperasi pada awal tahun depan.
"Yang tak kalah menarik, mesin lama dari TPST Santion tidak akan dibuang begitu saja. Pemerintah Kota Cimahi berencana memindahkannya ke wilayah Cigugur untuk mendukung pengembangan fasilitas pengolahan sampah baru," kata Ngatiyana.
Dengan langkah tersebut, kapasitas dan jangkauan pengolahan sampah di Cimahi diharapkan semakin meningkat.
Ngatiyana menyambut baik dukungan pemerintah pusat dan World Bank dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di daerahnya.
"Alhamdulillah perhatian dari World Bank untuk Kota Cimahi melalui Kementerian PUPR dan Kemendagri, Cimahi sebagai pilot project atau role model di dalam pengolahan sampah yang akan datang," ujar Ngatiyana.
Menurutnya, dukungan tersebut menjadi dorongan penting bagi Cimahi untuk beralih dari pola lama yang bertumpu pada pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA), menuju sistem pengolahan yang lebih terintegrasi.
"Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Pemerintah Kota Cimahi, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, yang terus memprioritaskan penanganan sampah," tambhnya.
Ngatiyana berharap, ke depan, sampah yang dihasilkan masyarakat dapat diolah semaksimal mungkin di dalam kota sehingga ketergantungan terhadap TPA Sarimukti bisa terus dikurangi.
"Selama ini, persoalan sampah menjadi tantangan tersendiri bagi Cimahi sebagai kota dengan wilayah terbatas dan jumlah penduduk yang padat. Ketergantungan pada pembuangan sampah ke TPA dinilai membutuhkan biaya besar dan tidak bisa terus menjadi satu-satunya solusi," ungkap Ngatiyana.
Melalui program ISWMP, pendekatan pengelolaan sampah mulai diperkuat dari hulu ke hilir, mulai dari pemilahan sampah di rumah tangga hingga pengolahan di fasilitas seperti TPST Santion dan TPST Lebak Saat.
"Perubahan ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang harus dikirim ke TPA sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah perkotaan," harap Ngatiyana.
Pemerintah Kota Cimahi optimistis pembaruan mesin dan pengembangan fasilitas pengolahan dapat menjadi langkah penting untuk menjawab persoalan sampah secara berkelanjutan.
Dukungan World Bank bersama Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kemendagri pun diharapkan mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah di Kota Cimahi.
"Jika seluruh fasilitas berjalan sesuai target, Cimahi berpeluang memperkuat posisinya sebagai kota percontohan pengelolaan sampah perkotaan, khususnya bagi daerah dengan wilayah kecil dan kepadatan penduduk tinggi," ucap Ngatiyana.
Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan pembangunan, pemasangan mesin, pemilahan dari rumah tangga, serta operasional seluruh fasilitas berjalan optimal agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
"Cimahi menatap babak baru pengelolaan sampah: bukan sekadar mengangkut dan membuang, tetapi mengolah sampah sedekat mungkin dengan sumbernya," tandas Ngatiyana. (Rustandi)





Posting Komentar