Warga Cimahi Lebih Banyak Pindah Keluar, Disdukcapil: Pertumbuhan Penduduk Melambat
Mobilitas penduduk antarkabupaten/kota masih dominan, dengan 254 orang pindah dalam lingkup kabupaten/kota dan 89 orang pindah antarprovinsi. Sementara itu, 249 pendatang berasal dari luar kabupaten/kota dan 83 orang dari luar provinsi.
Kepala Disdukcapil Kota Cimahi, Tri Lospala Candra, mengungkapkan bahwa pasca-Idul Fitri tetap terjadi peningkatan pendatang baru yang menetap, meskipun perpindahan keluar juga masih berlangsung.
"Dalam 1 minggu setelah Lebaran, ada 112 orang warga dari luar Provinsi Jawa Barat atau dari luar kota di Jawa Barat yang 'Hijrah' ke Cimahi dengan berbagai alasan," ujarnya, Kamis (02/04/2026)
Tri menjelaskan bahwa pendataan mobilitas penduduk dilakukan melalui fitur Pandacima yang melibatkan Ketua RW, operator kelurahan, hingga kecamatan untuk memantau warga yang masuk ke wilayah masing-masing.
"Disdukcapil, kata Tri, telah mengirimkan surat imbauan agar pendatang segera melaporkan administrasi kependudukannya,"ucapnya.
Dalam 1 bulan pasca Lebaran 2025, ada 603 orang yang pindah datang ke Cimahi, sedangkan 718 orang pindah keluar. Tri mengungkapkan bahwa tren perpindahan penduduk di Cimahi sepanjang 2025 menunjukkan jumlah warga yang keluar masih lebih besar dibandingkan yang datang,"tambahnya.
"Pertumbuhan penduduk Cimahi masih terjadi, namun laju pertumbuhannya mulai melambat. Pada 2023, jumlah penduduk Cimahi tercatat 575.519 jiwa, meningkat menjadi 581.994 jiwa pada 2024, dan kembali naik menjadi 584.820 jiwa pada 2025," tutur Tri.
Kenaikan ini menandakan adanya penambahan sekitar 6.475 jiwa dari 2023 ke 2024, lalu melambat menjadi sekitar 2.826 jiwa pada periode 2024 ke 2025. Secara persentase, laju pertumbuhan juga turun dari sekitar 1,13 persen menjadi 0,49 persen.
"Migrasi neto Cimahi cenderung negatif, dengan jumlah warga yang keluar lebih tinggi dibandingkan yang masuk. Pada 2023, 6.239 jiwa masuk dan 6.530 jiwa keluar, sementara pada 2024, 6.042 jiwa masuk dan 6.553 jiwa keluar,"imbuh Tri.
Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan tekanan kepadatan wilayah, yang mendorong sebagian warga memilih tinggal di daerah penyangga dengan ruang yang lebih longgar. Selain itu, keberadaan penduduk non permanen juga menjadi tantangan tersendiri.
"Kelompok ini merupakan warga yang telah tinggal lebih dari satu tahun di Cimahi, namun belum memindahkan domisili administrasi kependudukannya. Pada 2023, jumlah penduduk non permanen tercatat 1.902 jiwa, lalu turun drastis menjadi 477 jiwa pada 2024, dan sedikit meningkat menjadi 481 jiwa pada 2025," ucap Tri.
Dinamika tersebut menunjukkan tingginya mobilitas penduduk sekaligus menggarisbawahi persoalan klasik dalam administrasi kependudukan.
"Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam memastikan akurasi data serta perencanaan pembangunan yang tepat sasaran," jelasnya. (Rustandi)





Posting Komentar