Pemkot Cimahi Gandeng Akademisi, Ngatiyana: Tiap Kelurahan Target Punya Mesin Pengolah Sampah 5-10 Ton
Pernyataan itu disampaikan Ngatiyana usai membuka Peringatan Hari Lingkungan Hidup dan Penandatanganan Kerja Sama antara DLH Kota Cimahi dengan Perguruan Tinggi. Acara berlangsung di Aula Gedung A Pemkot Cimahi, Senin 8 Juni 2026.
Ngatiyana menjelaskan rencana besar yang sudah dibahas bersama Gubernur Jawa Barat. Khusus wilayah Bandung Raya, termasuk Cimahi, tiap kelurahan ditarget memiliki alat pengolah sampah mandiri dengan kapasitas 5 sampai 10 ton per hari.
"Rencana itu bukan sekadar wacana. Saat ini alat pengolah sampah sudah direncanakan dan proses pemesanan sedang berjalan. Setelah rampung, alat akan didistribusikan ke tiap desa dan kelurahan di Kota Cimahi," kata Ngatiyana.
Logikanya sederhana. Jika setiap kelurahan punya satu unit mesin, beban sampah yang selama ini menumpuk bisa langsung diolah di wilayah masyarakat. Sampah tidak lagi menumpuk dan bergantung penuh ke TPA.
"Melalui kerja sama ini, Pemkot bersama DLH menggandeng lingkungan akademisi perguruan tinggi. Akademisi dilibatkan untuk menangani riset dan strategi penyelesaian sampah yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan," ujar Ngatiyana.
Pemkot memilih pendekatan pentahelix. Akademisi, media, pengusaha, pemerintah, dan komunitas bergerak bersama. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan solusi nyata yang bisa dijalankan bersama masyarakat.
"Ngatiyana juga menyampaikan kondisi darurat TPA Sarimukti. Berdasarkan informasi terakhir, TPA Sarimukti dipastikan tutup sampai Oktober 2026. Artinya Cimahi tidak bisa lagi membuang sampah ke sana," ucapnya.
Situasi ini jadi alarm keras bagi Pemkot. Dengan timbulan sampah Cimahi mencapai 250 ton per hari, Pemkot harus segera mencari jalan keluar agar sampah tidak menjadi beban semua pihak.
"Strateginya dua arah. Pertama, memaksimalkan tempat pengolahan sampah yang sudah ada di Cimahi, baik di wilayah utara, tengah, maupun selatan. Kedua, menegaskan pemilahan sampah dari sumber di rumah tangga," jelas Wali Kota.
Pemilahan dari rumah membuat proses pengambilan dan pengolahan lebih mudah. Warga hanya perlu memisahkan sampah organik dan anorganik agar mesin di kelurahan bisa bekerja optimal.
"Ngatiyana mengakui kendala besar menanti jika Sarimukti benar-benar ditutup. Tapi ia optimistis. “Insyaallah kita akan mencarikan jalan keluar. Kita selesaikan sampah bersama-sama,” tegasnya.
Kepada perguruan tinggi, Wali Kota meminta peran ganda. Pertama jadi pusat edukasi. Kedua jadi contoh nyata. Kampus harus bebas sampah berceceran.
"Mahasiswa dan dosen turun langsung mengedukasi masyarakat tentang pengolahan, pemilahan, hingga pengawasan sampah di lingkungan," tandas Ngatiyana. (Rustandi)





Posting Komentar