Jaga Hutan, Air, dan Pangan: Cara Cireundeu Bicara ke Dunia
Abah Widi mencontohkan kendi tanah liat yang ditaruh di pertigaan saat ritual dimulai. Kendi itu bukan sekadar wadah.
“Itu bumi. Kita diingetin supaya jangan nginjek tanah sembarangan,” jelasnya.
Air jernih di dalamnya adalah pengingat bahwa sumber kehidupan bisa habis. Jika hutan gundul dan mata air mati, yang tersisa hanya air mata penyesalan.
"Tanaman muda di atas kendi jadi simbol regenerasi. Warga Cireundeu percaya, selama masih ada yang menanam, maka kehidupan akan terus berlanjut," tambah Abah Widi.
Bahkan asap kemenyan dan makanan dari singkong pun dipilih bukan tanpa alasan. Semua diambil dari alam sekitar, tanpa eksploitasi. Prinsipnya jelas: ambil secukupnya, jaga keberlanjutannya.
"Filosofi itu dipraktikkan langsung. Cireundeu membagi hutannya jadi tiga: Hutan Tutupan yang tidak boleh dijamah, Hutan Larangan yang dijaga ketat, dan Hutan Baladahan yang boleh dimanfaatkan secara bijak," tuturnya.
Konsep ini yang membuat banyak peneliti dan turis asing datang. Mereka tidak cari mitos, tapi bukti. Di Cireundeu, 60 kepala keluarga hidup sehat tanpa makan beras sejak puluhan tahun.
“Bagi kami, ini bukan atraksi. Ini cara hidup. Dunia lagi krisis pangan, kami sudah punya jawabannya dari dulu: jaga tanah, jaga air, jaga pohon,” tutup Abah Widi. (Rustandi)




Posting Komentar