Tutup Taun Cireundeu Cimahi: Ritual Syukur yang Jadi Kompas Hidup Modern
Bagi warga Cireundeu, rangkaian upacara ini adalah cara mereka membaca waktu. Bukan lewat kalender, tapi lewat laku spiritual yang dijalani sejak 1 Sura hingga puncak 30 Sura.
Abah Widi, tokoh Kampung Adat Cireundeu, menyebut setiap tahapan punya pesan. “Ini bukan hitungan mati. Ini hidup. Setiap tanggalnya ngajarin kita makna bersyukur dan eling,” ujarnya, Sabtu, 11 Juli 2026.
"Menurutnya, inti dari Tutup Taun adalah kesadaran penuh atas nikmat yang diberikan Tuhan. Sehat, rezeki, dan alam yang masih memberi kehidupan jadi alasan utama warga berkumpul dan berdoa," ujar Abah Widi.
Lebih lanjut Abah Widi menyampaikan, menganalogikan sembahyang dalam adat Cireundeu dengan salat dalam Islam. Sama-sama bentuk komunikasi dengan Sang Pencipta yang harus dilakukan setiap saat, bukan hanya saat upacara.
"Di tengah gempuran gaya hidup instan, Abah Widi menilai tradisi ini jadi penyeimbang. “Manusia sekarang gampang lupa. Ritual ini ngingetin bahwa kita numpang di bumi, bukan yang punya bumi,” tegasnya.
Karena itu, Tutup Taun tidak berhenti di doa dan sesaji. Nilai yang dibawa pulang warga adalah cara pandang: hidup sederhana, cukup, dan tidak serakah pada alam.
"Bagi generasi muda Cireundeu, Abah Widi berharap tradisi ini tidak dianggap kuno. Justru dari ritual inilah mereka belajar bertahan di zaman yang serba krisis," Abah Widi. (Rustandi)





Posting Komentar