KBB Kirim 74 Atlet Lolos Final ke Peparda VII Jabar, Terkendala Anggaran dan Sarpras
Namun demikian, dua atlet harus menjalani pemeriksaan ulang di Rumah Sakit Mata Cicendo. Sementara tujuh atlet lainnya dinyatakan tidak memenuhi syarat kelas pertandingan.
Wakil Sekretaris Umum NPCI Kabupaten Bandung Barat, Acep Kurnia menjelaskan, perubahan terbesar kali ini adalah penerapan aturan baru dari NPC Indonesia.
"Aturan tersebut memaksa sebagian atlet dipindahkan nomor pertandingan, kelas, bahkan cabang olahraga. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menyusun strategi jelang ajang yang tinggal empat bulan lagi," ucapnya.
Acep menilai, perkembangan positif justru terlihat dari keikutsertaan cabang olahraga. Jika pada Peparda sebelumnya hanya mengirimkan 9 cabang, kali ini NPCI KBB tampilkan 15 cabang dari total 17 yang dipertandingkan.
"Namun, potensi besar ini terancam terhambat oleh masalah mendasar yang belum terselesaikan. “Kendala utama kami saat ini ketidakjelasan anggaran hibah yang kami terima, sehingga jadwal latihan sering tersendat,” kata Acep, Jumat 17 Juli 2026.
Acep menambahkan, hingga kini KBB belum memiliki sarana dan prasarana latihan sendiri. Padahal sewa tempat dan peralatan membutuhkan biaya sangat besar.
"Kekurangan fasilitas tersebut sangat terasa di sejumlah cabang andalan. Cabang balap sepeda belum memiliki sepeda balap tunggal maupun sepeda tandem untuk atlet tunanetra," tambahnya.
Sedangkan cabang bowling yang menjadi andalan medali terpaksa menghentikan latihan. Penyebabnya karena dana sewa gelanggang sudah habis.
“Meskipun dukungan konsumsi dan transportasi dari Bupati sangat membantu, peralatan khusus dan pendamping spesialis masih jauh dari standar kebutuhan,” ungkapnya.
“Bahkan, atlet dari pelosok wilayah pun menghadapi kesulitan biaya perjalanan ke lokasi latihan,” ucap Acep.
Selain itu, perubahan aturan klasifikasi juga memengaruhi peluang medali. Cabang panahan dan tenis meja showdown tunanetra kini memiliki peluang lebih berat karena penyesuaian kelas baru.
Target medali kini bergeser dan lebih mengandalkan kekuatan cabang boling, anggar, atletik, judo, dan renang. Sementara lawan terberat diprediksi datang dari Kota Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung yang memiliki persiapan lebih matang.
Pihaknya berharap pemerintah daerah dan DPRD segera memperhatikan kesenjangan alokasi anggaran yang masih jauh tertinggal dibandingkan KONI. Selain membutuhkan kejelasan pendanaan, kebutuhan mendesak adalah pembangunan stadion dan gelanggang olahraga milik sendiri.
“Kami menyiapkan atlet tidak hanya untuk Peparda, tapi juga Pekan Para Pelajar, Peparpenas, hingga Seleknas. Kami takut bibit unggul ini akhirnya berpindah ke daerah lain karena tidak ada kepastian dukungan,” pungkasnya. (**)









Posting Komentar