Lestarikan Budaya, Cireundeu Gelar Tutup Taun 1959 Saka Sunda, Lurah Leuwigajah:Budaya Bekal Masa Depan
Kegiatan tahunan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus komitmen masyarakat adat dalam menjaga, melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai budaya Sunda kepada generasi penerus.
Selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat disuguhkan berbagai gelaran seni budaya Sunda khas Kampung Adat Cireundeu, yang melibatkan para pelaku seni, budayawan, dan masyarakat. Beragam pertunjukan tersebut menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus memperkuat identitas Kampung Adat Cireundeu sebagai salah satu pusat pelestarian kearifan lokal di Kota Cimahi.
Puncak kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, yang dihadiri para sesepuh dan pupuhu Kampung Adat Cireundeu, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tamu undangan, serta warga yang mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat.
Pada kesempatan tersebut, Lurah Leuwigajah, Dini Gusniar, S.E., M.M., menyampaikan sambutan penutup sebelum dimulainya pementasan wayang golek. Dalam sambutannya, Lurah Leuwigajah menyampaikan apresiasi kepada seluruh sesepuh, panitia, seniman, dan masyarakat Kampung Adat Cireundeu yang telah bersama-sama menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.
"Menurutnya, tradisi Tutup Taun bukan sekadar pergantian penanggalan, tetapi menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, memperkuat rasa syukur, serta meneguhkan komitmen dalam menjaga adat, budaya, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur," ujar Dini.
Lurah Leuwigajah menegaskan bahwa Pemerintah Kelurahan Leuwigajah akan terus mendukung upaya pelestarian adat dan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat. Nilai-nilai seperti silih asih, silih asah, silih asuh serta falsafah.
"Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman" diharapkan terus menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat di tengah perkembangan jaman.
Sebagai penutup seluruh rangkaian kegiatan, masyarakat disuguhkan pementasan wayang golek yang dibawakan oleh Khanha Ade Kosasih Sunarya Cucu Giri Harja 2 Putra.
"Penampilan tersebut menjadi penutup yang sarat makna, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral, pendidikan karakter, dan pelestarian seni tradisional Sunda," tutur Dini.
Melalui penyelenggaraan Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda, diharapkan semangat kebersamaan, gotong royong, serta kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal terus tumbuh di tengah masyarakat.
"Kampung Adat Cireundeu diharapkan tetap menjadi salah satu benteng pelestarian budaya Sunda sekaligus kebanggaan Kota Cimahi," tandas Dini Gusniar. (Rustandi)





Posting Komentar