81 Tahun Merdeka, Ngatiyana Tegaskan Kemerdekaan Harus Terasa di Tengah Warga Cimahi
Memimpin langsung upacara, Ngatiyana mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum 81 tahun Indonesia merdeka sebagai bahan evaluasi bersama. Menurutnya, ukuran kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi sejauh mana masyarakat memperoleh kehidupan yang layak.
“Setelah 81 tahun merdeka, pertanyaannya bukan lagi apakah kita merdeka, tetapi sudahkah kemerdekaan itu dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Ngatiyana.
Wali Kota Cimahi menilai pembangunan tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah. Pesan Presiden pada 14 Agustus 2026, kata Ngatiyana, menegaskan bahwa pembangunan merupakan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat.
"Di Kota Cimahi, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai program pelayanan publik. Di sektor kesehatan, Pemkot Cimahi membangun Puskesmas Cibeureum yang ditujukan untuk melayani sekitar 62 ribu warga, merevitalisasi Puskesmas Melong Tengah, serta menghadirkan layanan rawat jalan sore di seluruh kecamatan," ujar Ngatiyana.
Langkah serupa dilakukan di bidang infrastruktur. Bundaran Jati kini telah beroperasi sebagai bagian dari upaya mengurai kepadatan lalu lintas, sementara pembangunan Underpass Gatot Subroto-Baros terus dikawal bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Tidak semuanya kita kerjakan sendiri. Ada yang kita kerjakan bersama. Inilah gotong royong modern,” ujar Ngatiyana.
Ia juga menyoroti sektor ekonomi dan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi Cimahi sebesar 5,33 persen pada 2025 diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Sementara persoalan sampah terus ditangani melalui program “Zero to Landfill”, termasuk pengelolaan di TPST Santiong berkapasitas 85 ton per hari dan gerakan “Sapu Jagat”.
Ngatiyana turut mengingatkan bahwa penghargaan WTP ke-13 bukan sekadar pencapaian administratif. “Itu bukan piala. Itu pengingat bahwa setiap rupiah adalah amanah,” katanya. Ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari infrastruktur jalan, persoalan sampah, anak putus sekolah hingga pengangguran.
"Dia mengajak masyarakat menjadikan Merah Putih bukan sekadar simbol yang dikibarkan setiap Agustus, tetapi sebagai komitmen untuk terus bekerja dan membangun Cimahi. “Bukan hanya dikibarkan, tapi diwujudkan dengan kerja keras agar masyarakat Cimahi semakin hepi,” pungkasnya," tandas Ngatiyana. (Rustandi)








Posting Komentar