KDM dan Era Kepemimpinan Digital, Ketua Umum PWRI : KDM Gubernur Nyata
Menurut Suriyanto, masyarakat saat ini tidak lagi hanya mengandalkan pemberitaan media konvensional untuk mengetahui aktivitas seorang kepala daerah. Kehadiran media sosial membuat informasi mengenai kegiatan pemerintahan dapat diterima masyarakat hampir secara langsung.
“Era klasik sudah hampir mati. Era digital telah mempermudah informasi di semua lapisan kehidupan,” kata Suriyanto.
Ia menilai pola komunikasi KDM yang aktif menyampaikan berbagai aktivitas melalui media sosial menunjukkan adanya pergeseran dari pola kepemimpinan yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan jalur protokoler dan pemberitaan media.
"Menurutnya, perkembangan teknologi memungkinkan kepala daerah menyampaikan kegiatan dan program secara langsung kepada masyarakat tanpa harus menunggu pemberitaan beberapa hari kemudian," tegasnya.
Suriyanto menyebut sejumlah aktivitas yang ditampilkan KDM melalui media sosial, mulai dari persoalan lingkungan, infrastruktur hingga pengawasan terhadap pelayanan publik, sebagai contoh bagaimana platform digital dapat digunakan untuk memperlihatkan aktivitas pemerintahan kepada masyarakat.
Ia juga menanggapi munculnya sebutan “Gubernur Konten” yang diarahkan kepada KDM. Menurut Suriyanto, istilah tersebut perlu dilihat dalam konteks perubahan zaman, karena konten digital saat ini telah menjadi salah satu sarana komunikasi publik.
“Konten KDM bukan sekadar konten hiburan, tetapi banyak yang menampilkan aktivitas di lapangan dan persoalan yang ditemui masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Suriyanto berpandangan bahwa penggunaan media sosial oleh pejabat publik tetap harus ditempatkan dalam kerangka keterbukaan informasi. Menurut dia, masyarakat memiliki kepentingan untuk mengetahui aktivitas dan kebijakan pemimpinnya, sementara informasi yang disampaikan melalui media sosial tetap dapat menjadi bahan untuk diperiksa dan diverifikasi.
Ia juga menyoroti bagaimana perkembangan digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya daerah. Dalam pandangannya, penggunaan unsur budaya Sunda dalam aktivitas komunikasi KDM menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak selalu harus berjarak dengan tradisi lokal.
“Pemimpin era digital tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru teknologi bisa digunakan untuk memperkuat budaya leluhur agar tetap dikenal masyarakat,” katanya.
Suriyanto kemudian membandingkan pola komunikasi pemerintahan masa lalu dengan kondisi saat ini. Jika dahulu masyarakat harus menunggu pemberitaan media untuk mengetahui kegiatan kepala daerah, kini informasi tersebut dapat muncul secara langsung melalui berbagai platform digital.
"Menurutnya, perubahan tersebut membuat masyarakat memiliki akses lebih luas untuk melihat aktivitas pejabat publik. Namun, ia menekankan pentingnya masyarakat tetap kritis terhadap setiap informasi yang beredar di media sosial," ucapnya.
Dia berharap perkembangan teknologi komunikasi dapat mendorong kepala daerah di berbagai wilayah untuk semakin terbuka dalam menyampaikan program, kegiatan, serta hasil kerja kepada masyarakat.
Bagi Suriyanto, perdebatan mengenai istilah “Gubernur Konten” pada akhirnya merupakan bagian dari perubahan cara masyarakat melihat kepemimpinan di tengah perkembangan teknologi digital.
Suriyanto menilai yang terpenting bukan semata-mata seberapa sering seorang pemimpin muncul di media sosial, melainkan bagaimana informasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas pemerintahan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
“Era digital sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pemimpin daerah perlu memahami perubahan tersebut dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab untuk membangun komunikasi dengan masyarakat,” pungkasnya. (**)





Posting Komentar