UKT KKI Cimahi Jadi Kawah Pembinaan, 140 Peserta Dibidik Tembus Panggung Dunia
Sebanyak 140 peserta ambil bagian dalam UKT tersebut. Mereka mengikuti ujian dengan tingkatan sabuk mulai dari sabuk putih Q7 hingga tingkat lanjutan. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Pemerintah Kota Cimahi itu mendapat dukungan dari pemerintah daerah serta melibatkan sejumlah unsur dalam pembinaan olahraga karate.
Ketua KKI Kota Cimahi, Tumpal Sahala Sinaga, S.E., S.H., menegaskan bahwa UKT bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian penting dalam memastikan setiap karateka benar-benar memiliki kemampuan sesuai tingkatan yang akan diraihnya.
“Ujian kenaikan tingkat ini kita lakukan untuk mengukur hasil latihan mereka. Jadi memang ada proses yang harus dilalui sebelum seorang kohai dinyatakan layak naik tingkat. Ini merupakan program khusus dan wajib dilaksanakan KKI Cimahi,” ujar Sahala.
Menurutnya, materi ujian disesuaikan dengan tingkatan peserta. Pada level awal, penilaian lebih banyak diarahkan pada kebugaran, pengenalan teknik dasar serta kemampuan mengikuti gerakan dengan benar. Namun, semakin tinggi tingkatannya, materi yang diberikan semakin kompleks dan tidak hanya menyangkut teknik.
“Semakin tinggi tingkatannya, tentu yang diuji bukan hanya teknik. Ada strategi, kemampuan, penguasaan gerakan dan yang tidak kalah penting adalah kesiapan mental,” katanya.
UKT KKI Kota Cimahi kali ini juga menjadi gambaran kuatnya kolaborasi dalam pembinaan karate. Kegiatan tersebut melibatkan KKI Kota Cimahi bersama Dojo Sawanori yang dikelola Dinas Jasmani Angkatan Darat serta FORKI Kota Cimahi.
![]() |
| Tim Kesehatan |
Kolaborasi tersebut tidak hanya dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menyangkut keterlibatan pelatih dan penguji. Dengan demikian, proses ujian diharapkan mampu memberikan penilaian yang lebih objektif sekaligus memperkaya pengalaman para peserta.
“Kita kolaborasi untuk ujiannya. Pelatihnya kita kolaborasi, pengujinya juga kita kolaborasi,” jelas Sahala.
Sahala juga menyampaikan apresiasi kepada FORKI Kota Cimahi yang selama ini terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan KKI. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan atlet di Kota Cimahi.
“KKI itu bagian dari FORKI. Terima kasih kepada Ketua FORKI Kota Cimahi yang sangat mendukung acara ini,” ujarnya.
Pemilihan lingkungan Pemkot Cimahi sebagai lokasi UKT pun disebut bukan tanpa alasan. Sahala menilai penggunaan fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap perkembangan olahraga, khususnya cabang karate di Kota Cimahi.
“Kenapa harus di Pemkot? Karena pemerintah sangat mendukung pelaksanaan acara ini,” tegasnya.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari perwakilan FORKI Kota Cimahi. Kehadiran unsur kepolisian tidak hanya dipandang dari sisi dukungan terhadap kegiatan olahraga, tetapi juga sebagai kesempatan untuk melihat langsung potensi-potensi atlet yang bisa dikembangkan ke depan.
"Menurutnya, pembinaan yang dilakukan KKI Cimahi selama ini telah menunjukkan hasil. Bahkan, atlet KKI disebut cukup mendominasi ketika dikirim untuk mengikuti ajang maupun seleksi di tingkat Polda Jawa Barat, Alhamdulillah, didominasi oleh KKI juga. Ini bentuk komitmen KKI mendukung FORKI Kota Cimahi,” katanya.
Sahala menambahkan, pembinaan di tingkat cabang memiliki batas kewenangan. Untuk tingkatan sabuk hingga cokelat masih menjadi bagian pembinaan di tingkat kota atau kabupaten, sementara tingkatan sabuk hitam dan seterusnya masuk dalam ranah pembinaan tingkat provinsi.
“Kalau untuk kota atau kabupaten, kita hanya sampai cokelat. Kalau sudah ke atas, itu ranah provinsi. Jadi di cabang kita perkenalkan dulu, kita uji, nanti untuk dipoles lebih tajam lagi di provinsi,” jelas Sahala.
Dari proses pembinaan tersebut, KKI Kota Cimahi kini mulai memasang target lebih tinggi. Saat ini terdapat lima atlet KKI Cimahi yang dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat Jawa Barat. Para atlet tersebut merupakan hasil kolaborasi KKI dengan perguruan lain yang berada di bawah naungan FORKI.
Tidak berhenti pada seleksi tingkat Jawa Barat, KKI Cimahi juga mulai menyiapkan para karateka menghadapi Kejuaraan Karate Piala Wali Kota Cimahi yang direncanakan berlangsung Oktober 2026.
Target pun dipasang secara tegas. KKI Cimahi ingin menjadikan ajang tersebut sebagai momentum untuk menunjukkan hasil pembinaan sekaligus merebut prestasi di hadapan publik Kota Cimahi.
“Target kita pertama adalah bagaimana KKI Cimahi bisa menjadi juara di kejuaraan perebutan Piala Wali Kota Cimahi Oktober nanti,” kata Sahala.
Namun bagi KKI Cimahi, target tersebut bukanlah tujuan akhir. Ada visi yang jauh lebih besar, yakni membawa nama Cimahi tidak hanya dikenal di tingkat daerah dan nasional, tetapi mampu berbicara di pentas internasional.
Sahala menyampaikan pesan dari Sensei Sawanori Matsuzaki, Ketua MSH Kushin Ryu dunia, yang mendorong agar KKI Cimahi terus membangun prestasi hingga mampu membawa nama Cimahi ke level dunia.
“Ia menyampaikan KKI Cimahi harus ada, Cimahi harus ada di dunia. Ini pekerjaan tidak gampang, tapi kami berupaya apa pun caranya. Mudah-mudahan KKI Cimahi dari Cimahi bisa mendunia,” tegas Sahala.
Sementara itu, Sensei Sawanori Matsuzaki menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru, pelatih, pengurus FORKI dan KKI yang telah berperan dalam terselenggaranya UKT tersebut.
Ia berharap seluruh rangkaian ujian dapat berjalan lancar hingga selesai dan menghasilkan karateka-karateka yang memiliki kualitas serta mental juara.
“Terima kasih kepada semua guru, pelatih, terutama pengurus FORKI dan KKI atas terlaksananya ujian ini. Luar biasa ujian di Kota Cimahi ini. Semoga lancar hingga akhir ujian,” ungkap Sensei Sawanori Matsuzaki.
Menurutnya, salah satu kunci utama keberhasilan seorang karateka bukan hanya kemampuan teknik, tetapi juga disiplin dalam menjalani proses latihan dan setiap tahapan pembinaan.
“Semoga ada yang bisa sampai menjadi juara dunia,” pungkasnya. (Rustandi)










Posting Komentar