Buka Seminar Kesehatan Mental, Ngatiyana: Kecemasan dan Overthinking Bukan Tren, Ini Masalah Nyata
Kegiatan yang diinisiasi oleh MUI Kota Cimahi dan Bagian Kesra Setda Kota Cimahi ini dihadiri oleh Ketua Umum MUI Kota Cimahi, jajaran pengurus MUI, moderator, para pemateri, serta peserta seminar dari kalangan remaja dan orang tua.
Dalam sambutannya, Ngatiyana mengajak seluruh hadirin untuk berkontemplasi melihat derasnya kemajuan teknologi dan digitalisasi yang hampir tak terbendung di era saat ini.
"Ia mengatakan di satu sisi kemajuan teknologi mempermudah tugas dan memperluas wawasan, namun di sisi lain seperti dua sisi mata uang juga membawa efek samping berupa kerusakan pada pergaulan dan kehidupan sosial," tambah Ngatiyana.
Dampak tersebut menurutnya lebih kuat dirasakan dalam pergaulan anak-anak karena paparan digital melalui smartphone dan gawai lainnya yang lebih intens dibandingkan orang tua.
"Salah satu implikasi nyata dari paparan digital tersebut adalah munculnya isu kesehatan mental dan kenakalan remaja seperti kecemasan, overthinking, tidak percaya diri, gangguan kognitif hingga emosi temperamen yang tidak terkontrol," ujarnya.
Ngatiyana memaparkan data riset nasional yang cukup mengkhawatirkan dimana 1 dari 3 remaja Indonesia usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dan 1 dari 25 remaja memiliki gangguan mental yang didiagnosis secara klinis.
"Data Survei Kesehatan Indonesia juga menyebut kasus depresi tertinggi ditemukan pada kelompok anak usia 15-24 tahun, bahkan hanya 10,4% yang mendapat pertolongan profesional dan 61% remaja penderita depresi sempat terpikir untuk mengakhiri hidup dalam sebulan terakhir," beber Ngatiyana.
Ngatiyana menegaskan bahwa kondisi ini sering disikapi keliru oleh orang tua yang menganggapnya hanya masalah remaja biasa, padahal ini adalah realita mengerikan yang berdampak nyata pada generasi penerus.
Secara pribadi dan atas nama Pemerintah Kota Cimahi, Ngatiyana mengapresiasi seminar ini sebagai ikhtiar bersama untuk memahami pencegahan dan penanganan kesehatan mental melalui pendekatan yang lebih humanis dan privat.
"Ngatiyana berharap peran sekolah dan orang tua menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi kesehatan mental dan kenakalan remaja, dan apa yang dilakukan hari ini menjadi investasi jangka panjang bagi generasi penerus Kota Cimahi di masa depan," tandasnya. (Rustandi)






Posting Komentar