Evita Nursanty Soroti Kendala Animasi Nasional Saat Kunker ke Ayena Studio Cimahi
Hal tersebut disampaikan Evita saat kunjungan kerja Panja ke PT Ayena Mandiri Sinema, Ayena Studio. Kunjungan berlangsung Jumat 5 Juni 2026 di Gedung BITC, Jalan Mintareja, Kelurahan Baros, Kota Cimahi.
Tujuan kunjungan adalah menyerap aspirasi langsung dari pelaku industri kreatif. Komisi VII juga ingin melihat perkembangan sektor animasi yang dinilai punya potensi besar.
Animasi berbasis kekayaan intelektual IP dinilai bisa mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Karena itu Komisi VII tengah mengkaji langkah strategis untuk memperkuat ekosistem perfilman dan animasi nasional.
"Evita menjelaskan Komisi VII baru menggelar rapat kerja dengan Kementerian Ekonomi Kreatif. Dalam rapat itu mereka mendorong fokus pengembangan ekonomi kreatif diarahkan ke industri berbasis IP dan teknologi digital," tegasnya.
Menurut Evita, subsektor seperti fashion, kriya, dan kuliner sudah banyak mendapat perhatian kementerian lain. Sementara subsektor dengan nilai tambah tinggi seperti animasi perlu penguatan lebih serius.
"Ke depan kami berharap Kementerian Ekonomi Kreatif lebih fokus pada industri berbasis digital dan kekayaan intelektual karena sektor ini memiliki peluang besar untuk berkembang dan bersaing di tingkat global," ujar Evita.
Dalam kunjungan, Evita mengaku terkesan dengan perjalanan Ayena Studio. Perusahaan itu tumbuh dari skala kecil hingga terlibat di berbagai produksi animasi nasional.
Ia menilai keberhasilan Ayena membuktikan industri animasi Indonesia punya kemampuan dan daya saing. Meski dibangun dengan keterbatasan modal, hasilnya tetap membanggakan.
"Saya sangat mengapresiasi karena perusahaan ini tumbuh dari bawah dengan berbagai keterbatasan, namun kini mampu menunjukkan hasil yang membanggakan," katanya.
Namun Evita menilai sebagian besar studio animasi nasional masih jadi mitra produksi. Belum banyak yang memiliki kekayaan intelektual sendiri sebagai pemilik karya.
"Karena itu pemerintah didorong membuat kebijakan yang memungkinkan pelaku industri jadi pemilik IP. IP bernilai ekonomi tinggi harus bisa jadi sumber pendapatan jangka panjang," kata Evita.
Menurut Evita, potensi animasi Indonesia sangat besar karena didukung talenta kreatif di berbagai daerah. Potensi itu perlu diperkuat negara agar jadi industri berorientasi ekspor.
"Kita ingin Indonesia tidak hanya menjadi pelaksana produksi, tetapi juga menjadi pemilik karya, pemilik karakter, dan pemilik IP yang dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang," jelasnya.
Ia mengungkapkan sejumlah karya animasi yang tayang di bioskop dan disambut positif masyarakat. Banyak tenaga kreatif dalam negeri, termasuk dari Ayena Studio, terlibat di dalamnya.
"Keberhasilan itu menunjukkan kualitas animasi Indonesia semakin bersaing dan diterima pasar. Ini modal penting untuk go internasional," tambah Evita.
Evita menegaskan persoalan pembiayaan masih jadi tantangan utama pelaku kreatif. Pengakuan IP sebagai jaminan pembiayaan juga belum optimal walau dasar regulasinya sudah ada.
"Secara aturan memang sudah ada, tetapi dalam praktik di lapangan para pelaku usaha masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pembiayaan," ucapnya.
Semua masukan dari kunjungan kerja akan dibawa ke pembahasan bersama Kementerian Ekonomi Kreatif. Komisi VII berkomitmen menyampaikan keluhan pelaku industri agar ditindaklanjuti kebijakan efektif.
Evita juga membuka ruang komunikasi langsung bagi pelaku kreatif yang terkendala. Tujuannya mempercepat koordinasi antara pelaku usaha dengan kementerian dan lembaga terkait.
"Kalau ada persoalan yang menghambat perkembangan usaha, sampaikan kepada Komisi VII agar kami bisa membantu menghubungkan dengan pihak yang berwenang dan mencari solusi bersama," kata Evita.
Melalui kunjungan ini, Komisi VII berharap animasi nasional berkembang lebih pesat. Dengan dukungan pembiayaan, distribusi, dan penguatan SDM, sektor ini bisa jadi motor ekonomi kreatif dan peningkat ekspor nasional. (Rustandi)






Posting Komentar