Komisi VII DPR RI Kunjungi Ayena Studio Cimahi, Soroti Kendala Pembiayaan Industri Animasi
Fokus utama kunjungan adalah menyerap langsung aspirasi pelaku industri kreatif. Komisi VII ingin mendengar kendala nyata yang dihadapi sektor animasi dan film nasional saat ini.
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay memimpin rombongan. Ia menilai industri kreatif berbasis kekayaan intelektual punya prospek besar sebagai penggerak ekonomi masa depan.
"Menurut Saleh, pemerintah harus memberi dukungan lebih kuat ke pelaku usaha kreatif. Tanpa dukungan itu, sulit bagi mereka berkembang dan bersaing di pasar global," ujarnya.
Konten kreator dan pelaku industri kreatif perlu mendapat dukungan pemerintah, terutama dari sisi permodalan karena sektor ini sangat menjanjikan dan berpotensi menjadi aset nasional.
"Ia mengapresiasi capaian Ayena Studio. Studio asal Cimahi itu dinilai sukses membuktikan karya animasi lokal bisa tembus pasar internasional,"kata Saleh.
Keberhasilan Ayena menjadi bukti nyata industri kreatif daerah punya daya saing. Kualitasnya tidak kalah dengan studio animasi dari negara lain.
"Saleh menjelaskan DPR RI kini mengkaji regulasi yang lebih berpihak ke industri kreatif. Tujuannya membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha berbasis kekayaan intelektual," jelas Saleh.
Kami sedang meninjau regulasi agar benar-benar mampu mendukung pelaku industri kreatif, termasuk membuka peluang pembiayaan yang lebih luas melalui lembaga keuangan,” ujarnya.
Selain regulasi, Komisi VII juga mendorong pelatihan terarah untuk pelaku kreatif. Hal ini penting karena teknologi seperti AI makin memengaruhi sektor ekonomi kreatif.
Komisi VII bahkan membentuk Panja Pembiayaan dan Permodalan. Panja ini diharapkan jadi jembatan antara pelaku usaha dengan lembaga keuangan yang masih ragu terima IP sebagai agunan.
“Ke depan kami ingin kekayaan intelektual mendapat pengakuan yang lebih kuat sehingga bisa menjadi dasar untuk memperoleh akses pembiayaan,” jelas Saleh.
Di sisi lain, CEO Ayena Studio Robby UL Pratama menyebut tantangan terbesar industri animasi adalah karya berkualitas yang punya nilai ekonomi tinggi. Karena itu Ayena terus menghidupkan kembali IP lokal agar bersaing di level nasional dan global.
“Kami ingin IP-IP lokal Indonesia tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” ujar Robby.
Menurut Robby, kendala utama masih sama: IP belum diakui sebagai aset bankable. Akibatnya pelaku kreatif susah dapat pendanaan walau punya karya bernilai ekonomi tinggi.
“Kami berharap masyarakat dan lembaga keuangan memahami bahwa IP memiliki valuasi yang jelas dan dapat menjadi aset berharga untuk mendapatkan pembiayaan,” kata Robby.
Robby menilai dukungan regulasi dan pembiayaan adalah kunci. Dengan dukungan itu, pelaku kreatif daerah bisa melahirkan karya lebih kompetitif dan berkelanjutan. (Rustandi)







Posting Komentar