PKBM Cimahi Genjot Minat Belajar Lewat Futsal dan Tari Campernik
PKBM bukan cuma jadi penyangga pendidikan nonformal. Di dalamnya ternyata tumbuh bibit-bibit unggul. Banyak anak punya bakat olahraga, seni, bahkan keterampilan lain.
Sayangnya, pembinaan khusus untuk anak berbakat itu masih minim. Baik dari sisi kelembagaan PKBM maupun dukungan pemerintah kota. Akibatnya, potensi anak belum berkembang maksimal.
Ketua Forum PKBM Kota Cimahi, Daryu, mengakui tantangan terbesar saat ini bukan sekadar soal akademik. PR utama adalah mengubah stigma masyarakat dan menarik minat anak yang sudah lama jauh dari sekolah.
"Prinsip yang dipegang forum sederhana: inklusif. “Siapa saja yang belum kenal atau belum terjangkau pendidikan formal, wajib dan berhak masuk PKBM,” tegas Daryu, Rabu 3 Juni 2026.
Di sisi lain, pengembangan bakat anak berprestasi masih jadi pekerjaan rumah. Belum ada sistem pembinaan terstruktur dari pengelola maupun Pemkot Cimahi.
“Sampai Gebyar Pesdiktara pertama, kedua, sampai ketiga belum ada pembinaan khusus yang terstruktur. Padahal banyak anak punya potensi dan antusiasme tinggi,” kata Daryu.
Melihat kekosongan itu, forum mulai merancang strategi baru. Fokusnya ke minat dan bakat anak supaya mereka betah dan semangat belajar di PKBM.
Ada dua bidang yang paling diminati anak: olahraga futsal dan kesenian. Tari Campernik dipilih sebagai identitas khas Kota Cimahi untuk menarik anak belajar lewat seni.
“Ini dipilih bukan tanpa alasan. Futsal dan Campernik jadi daya tarik utama agar anak tidak sekolah mau gabung lagi,” sebutnya.
Rencana konkretnya: Forum PKBM akan menggelar Liga Futsal PKBM. Tujuannya murni untuk memicu semangat anak datang ke kelas.
"Antusiasme sudah terlihat. Saat ini 16 lembaga PKBM sudah punya tim futsal sendiri. Bahkan sudah ada kompetisi kecil dengan juara 1, 2, dan 3,"terang Daryu.
Untuk bidang seni, pengembangan Tari Campernik lebih menantang. Gerakannya cukup sulit, tapi tetap menggembirakan karena 6 lembaga sudah aktif melatihkannya.
Di luar dua bidang itu, kegiatan senam justru paling banyak peminatnya. Tercatat 15 lembaga PKBM rutin mengadakan senam bersama anak didiknya.
Puncak program pengembangan ini ditarget 2027 mendatang. Liga Futsal PKBM dijadwalkan digelar lebih besar dan terstruktur, bukan sekadar kompetisi internal.
“Agenda ini jadi langkah taktis forum menjawab tantangan pendidikan nonformal. Kami ingin PKBM bukan hanya kejar ijazah,” ucap Daryu.
Lewat kompetisi dan seni, Daryu berharap stigma PKBM tempat “anak tertinggal” berubah. PKBM justru bisa jadi ruang pengembangan potensi yang menyenangkan.
“Tujuannya satu: anak putus sekolah atau belum sekolah tertarik dan akhirnya mau kembali belajar. Lewat bakat dan prestasi, kami buktikan pendidikan di PKBM bermutu dan berwarna,” tandasnya. (Rustandi)





Posting Komentar