Dwi Widiantoro, Atlet Bowling Tunanetra KBB Raih Emas Asian Para Games Lewat Perjuangan Mandiri
Warga Kampung Sudimampir, Padalarang ini harus berjuang seorang diri. Ia membiayai latihan dari kantong pribadi dan berlatih tanpa fasilitas memadai. Padahal ia sudah mengharumkan nama daerah hingga ke kancah internasional.
Kini di usia 49 tahun, semangat Dwi tidak pernah padam. Justru semakin berkobar. Baginya, keterbatasan justru menjadi bahan bakar untuk terus bergerak maju dan menginspirasi banyak orang.
Kehidupan Dwi dulunya berjalan normal. Ia bisa melihat seperti orang pada umumnya hingga usia 14 tahun. Namun segalanya berubah saat menjelang usia 15 tahun. Serangan virus merenggut penglihatannya secara total dalam waktu singkat.
Masa itu menjadi titik terberat dalam hidupnya. Dari yang terbiasa melihat dunia dengan mata, ia harus belajar hidup dalam gelap. Butuh waktu panjang untuk menerima keadaan dan beradaptasi dengan dunia baru yang tak lagi bercahaya.
Titik balik datang saat ia masuk ke asrama tunanetra. Di sanalah ia pertama kali mengenal olahraga bagi penyandang disabilitas. Dari situlah jalan baru terbuka dan semangatnya kembali menyala.
"Di situlah saya sadar, keterbatasan bukan alasan untuk lemah. Saya justru menemukan tempat mengembangkan bakat dan terus berjuang berprestasi," ungkap Dwi, Kamis (6/8/2026).
Perjuangan itu tidak ia jalani sendiri. Ada sosok pendamping setia di sampingnya, yakni sang istri. Dukungan moral dari keluarga menjadi kekuatan utama Dwi untuk terus bangkit dan tidak menyerah pada keadaan.
Saat ini Dwi menekuni cabang bowling. Latihan dilakukan secara mandiri tanpa bantuan sarana dari pemerintah. "Dibandingkan daerah lain, dukungan dan fasilitas di sini masih jauh sekali," katanya lirih.
Namun semua keterbatasan itu tidak membuatnya patah. Kegagalan ia anggap sebagai keberhasilan yang tertunda. Tekad untuk membela Merah Putih membuatnya terus berlatih. Puncaknya terjadi pada Asian Para Games 2018 di Jakarta. Saat itu ia berhasil meraih medali emas dan mengantarkan bendera Indonesia berkibar.
Bagi Dwi, medali bukan sekadar logam. "Sebuah medali bukan sekadar logam berkilau, tapi cerminan diri, bukti kerja keras tanpa henti dan jawaban bahwa mimpi itu tetap bisa diraih meski jalannya penuh rintangan," tandasnya.
Kini ia punya harapan sederhana. Ia ingin Pemkab Bandung Barat dan NPCI setempat lebih peduli terhadap atlet disabilitas. "Sarana dan prasarana yang belum memadai tak seharusnya menjadi penghalang prestasi anak-anak disabilitas daerah," ujarnya.
"Ia juga menitipkan pesan untuk sesama penyandang disabilitas di KBB. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Jadikan itu kekuatan untuk terus berjuang dan mengukir prestasi," pungkasnya. (Rustandi)




Posting Komentar