Swadaya Tapi Meriah, Pesdiktara 2026 Bukti PKBM Cimahi Tak Kalah Saing
Acara tahunan yang masuk tahun keempat ini kembali menegaskan posisi pendidikan nonformal. PKBM bukan lagi jalur alternatif terakhir, tapi ruang setara bagi anak yang ingin belajar sambil bekerja.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, tahun ini Pesdiktara tidak mendapat kucuran anggaran penuh dari Dinas Pendidikan Kota Cimahi. Kebijakan efisiensi memaksa panitia menggelar acara secara swadaya.
Para pengelola PKBM akhirnya patungan lewat iuran antar lembaga. Gotong royong jadi kunci agar kegiatan tetap berjalan meski dana terbatas.
Justru keterbatasan itu tidak memadamkan semangat. Antusiasme peserta terlihat sejak pagi hingga sore, membuktikan anak-anak kesetaraan tetap gigih berkarya.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ini bentuk ekspresi nyata siswa Paket A, B, dan C memamerkan potensi yang lama terpendam,” ujar Ketua Pelaksana Gebyar Pesdiktara 2026, Ahmad Daud.
Ahmad menyebut mayoritas peserta berasal dari latar belakang putus sekolah dan kurang mampu. Banyak juga yang dulu menutup diri karena merasa tersisih dari lingkungan formal.
Untuk itu panitia menyiapkan lomba futsal, seni vokal, tarian, sampai cerdas cermat. Tujuannya melatih anak tampil, berinteraksi, dan membangun percaya diri.
“Kebanyakan anak ini introver dan mengurung diri. Di sekolah formal mereka merasa tidak nyaman. Di PKBM kami buktikan mereka punya kemampuan,” katanya.
Lewat kegiatan seru itu efeknya langsung terasa. Anak yang tadinya malas belajar jadi rajin datang karena ada tujuan dan kebanggaan tersendiri.
“Mereka sendiri yang ajak temannya, ‘Ayo ke PKBM, ada kegiatan seru’. Dari situ semangat belajar naik, soft skill dan hard skill ikut terasah,” tambah Ahmad.
Pesdiktara 2026 diikuti 16 dari 23 PKBM aktif di Cimahi. Cabang futsal jadi primadona dengan partisipasi 16 tim peserta.
Keunikan tahun ini, panitia memberi prioritas ke peserta pemula. Anak yang belum pernah menang sengaja dimajukan agar merasakan apresiasi pertama kali.
“Kami tidak dahulukan yang sudah banyak prestasi. Anak baru juga berhak dapat momen bangga atas usaha kerasnya,” papar Ahmad.
Ia mengakui penyelenggaraan masih mengandalkan swadaya penuh. Ke depan Pesdiktara diharapkan dikelola lebih profesional dengan persiapan lebih panjang.
Ahmad juga menaruh harapan besar ke Pemkot dan pihak swasta. Dukungan dana atau sponsor dinilai penting agar kualitas lomba meningkat.
“Kalau persiapan lebih matang, ajang ini bisa jadi percontohan bukan hanya di Cimahi, tapi juga daerah lain,” ucapnya.
“Kami bersyukur kegiatan tetap jalan berkat kekompakan. Tapi anak-anak ini berhak dapat panggung terbaik,” tegasnya.
Ketua Forum PKBM Kota Cimahi, Daryu, menutup dengan penegasan. Eksistensi PKBM kini setara formal, dibuktikan banyak lulusan yang tembus PTN lewat SNBP dan meraih beasiswa penuh.
“Jangan pernah remehkan anak pendidikan kesetaraan. Prestasi mereka tidak kalah. Pesdiktara ini magnet kami untuk menarik anak putus sekolah kembali menuntut ilmu,” pungkas Daryu. (Rustandi)





Posting Komentar