Dari Bandung ke Ujung Nusantara: Kisah Sidik Permana Menjelajah Indonesia di Atas Dua Roda
Sidik bukan seorang petualang profesional dengan sponsor besar, bukan pula fotografer dengan lensa mahal. Ia hanya anak muda biasa yang membawa satu hal luar biasa: mimpi untuk melihat Indonesia bukan dari layar, melainkan langsung dengan mata dan hatinya sendiri.
“Kenapa aku memilih motor, bukan pesawat atau mobil?” ucap Sidik sambil tersenyum, seolah pertanyaan itu sudah puluhan kali ia jawab untuk dirinya sendiri. Baginya, motor memberi kebebasan untuk berhenti kapan saja, menyapa siapa saja, dan merasakan jalan dengan seluruh panca indera.
Semua bermula pertengahan 2019. Sidik aktif di Bandung Nmax Community dan rutin ikut touring. Tapi rute yang itu-itu saja di Jawa justru menyalakan rasa ingin tahu yang lebih liar. Ada gatal di hatinya: seperti apa rupa Indonesia di luar Pulau Jawa?
Akhir 2020 menjadi titik balik. Dengan tas yang diikat seadanya di jok belakang dan tekad yang tak bisa ditawar, Sidik menarik gas motornya menyeberang ke Sumatra. Itu bukan sekadar perjalanan pertama ke luar pulau. Itu adalah ritual perkenalan dirinya dengan tanah air.
“Yang aku bawa waktu itu bukan cuma jaket dan baju ganti,” kenang Sidik saat ditemui di rumahnya, Rabu 15 Juli 2026. “Yang aku bawa adalah rasa penasaran tentang Indonesia yang selama ini hanya aku kenal lewat buku pelajaran, berita di TV, dan cerita orang," kata Sidik.
Sumatra menjawab semua pertanyaannya dengan cara yang tak ia duga. Jalanan panjang, aroma kopi Gayo di udara pagi, hingga dialek yang berganti tiap kali ia melewati batas kabupaten. Semua terasa nyata, megah, dan jauh lebih hidup dari apa pun yang pernah ia lihat di layar.
"Satu hal yang selalu sama di setiap pemberhentian: keramahan. Orang-orang yang baru ia temui beberapa menit bisa tiba-tiba menawari kopi, tempat berteduh saat hujan, bahkan kasur untuk menginap. Di situlah Sidik sadar, Indonesia bukan cuma tentang bentang alam, tapi tentang manusia," ucapnya.
Rasa puas di Sumatra tak membuat Sidik berhenti. Justru ia makin haus. Kalimantan menjadi tujuan berikutnya. Ia membelah hutan, melewati jalan lurus yang sepi sejauh mata memandang, hingga akhirnya menjejakkan kaki di wilayah perbatasan dengan Malaysia.
"Tantangan di Borneo berbeda. Bukan cuma jarak, tapi kesunyian. Di beberapa titik, sinyal hilang dan ia hanya ditemani suara mesin serta pepohonan. Namun justru di situlah ia belajar mendengar: mendengar alam, dan mendengar dirinya sendiri," tegasnya.
Tak cukup sampai di situ, stang motor Sidik mengarah ke timur. Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Kupang ia lewati. Jalur berkelok di pegunungan Flores menguji fokusnya, sementara angin kencang di pesisir Sumbawa menguji nyali.
Bahkan garis batas negara pun ia lintasi. Sidik sempat masuk ke Timor Leste. Melihat Indonesia dari sisi seberang justru membuatnya terdiam. “Baru sadar, negara kita ini besar sekali. Indah sekali. Dan kita sering lupa bersyukur tinggal di sini,” ujarnya pelan.
"Dari semua perjalanan, ada satu yang ia simpan di ruang paling khusus di ingatannya: 43 hari mengelilingi Sulawesi. Misinya bukan main-main. Ia ingin sampai ke Miangas, pulau terluar Indonesia di utara yang berbatasan langsung dengan Filipina," tutur Sidik.
Sulawesi memberinya paket lengkap. Aspal mulus yang membuat ia bisa menikmati sabana dan laut biru, lalu tiba-tiba jalan berbatu yang memaksa motor dan tubuhnya bekerja ekstra. Cuaca pun tak bisa ditebak. Pagi terik membakar kulit, sore hujan turun seperti ditumpahkan dari langit.
Tapi semua kerasnya medan itu selalu luluh oleh manusia yang ia temui. Di warung kecil, di pinggir dermaga, di rumah singgah yang pintunya selalu terbuka. Mereka menyapa Sidik bukan sebagai orang asing, tapi seperti keluarga yang sudah lama pulang.
Kini, setelah ribuan kilometer terlewati, Sidik memaknai perjalanan dengan cara yang berbeda. Ini bukan tentang seberapa jauh ia pergi, atau berapa banyak provinsi yang ia centang di peta. Ini bukan untuk konten media sosial.
“Motor ini mengajarkan aku satu hal,” kata Sidik. “Perjalanan adalah cara untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Dan anehnya, semakin jauh aku pergi, semakin aku menemukan diriku sendiri di tengah keberagaman yang ternyata menyatukan kita," ucapnya.
Baginya, Indonesia bukan garis di atlas. Indonesia adalah kelas yang tak pernah selesai, dengan guru berupa jalan, laut, gunung, dan manusia-manusia baik yang ia temui di tiap persinggahan.
Dan perjalanan itu belum selesai. Masih ada Papua yang belum ia jamah. Masih ada pulau-pulau kecil yang namanya bahkan belum ia hafal. Masih ada cerita yang menunggu untuk didengar dari mulut warga, bukan dari berita.
"Selama roda motornya masih bisa berputar dan rasa penasarannya belum padam, Sidik Permana akan terus berjalan. Karena baginya, Indonesia adalah ruang belajar paling luas yang Tuhan kasih, dan ia beruntung bisa menyapanya lewat dua roda," tutup Sidik. (**)









Posting Komentar