Sampah Menggunung, Bandung Barat Butuh Solusi TPA Baru: DPRD Soroti Dampak Sosial Sarimukti
Tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut membuat keresahan warga kian meluas. Aroma tak sedap, pemandangan kumuh, hingga ancaman kesehatan menjadi keluhan harian yang akhirnya diarahkan kepada para wakil rakyat di DPRD KBB.
Ketua Komisi IV DPRD KBB, Nur Djulaeha, menegaskan hal tersebut usai melakukan kunjungan pengawasan langsung ke TPPAS Sarimukti, Kecamatan Cipatat. Ia melihat langsung bagaimana kapasitas fasilitas itu sudah tidak sebanding dengan volume sampah KBB.
“Permasalahan yang terjadi di Sarimukti tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar TPPAS. Dampak sosialnya juga dirasakan masyarakat di berbagai wilayah karena banyak tumpukan sampah yang tidak terangkut,” kata Nur, Rabu, 8 Juli 2026.
Nur membeberkan data timpang yang menjadi akar masalah. Kebutuhan pengangkutan sampah KBB mencapai sekitar 700 ritase per hari. Namun kenyataannya, yang mampu dilayani saat ini hanya sekitar 150 ritase per hari.
Selisih 550 ritase per hari itu yang kemudian menjelma menjadi gunungan sampah di sejumlah kawasan permukiman maupun titik pembuangan sementara. Pemandangan sampah yang meluber ke jalan dan selokan pun tak terhindarkan.
“Akibatnya kita bisa melihat sendiri di beberapa tempat sampah menggunung. Masyarakat tentu mengeluh, dan yang mereka datangi salah satunya DPRD,” ujar Nur. Kantor dewan kerap menjadi tempat warga mengadu soal sampah.
Menurut Nur, kondisi darurat ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Jika dibiarkan berlarut, persoalan sampah tak hanya merusak lingkungan dan kesehatan, tetapi juga berpotensi memicu gesekan sosial di tengah masyarakat.
Desakan solusi jangka panjang pun menguat di internal DPRD. Dalam pembahasan anggaran bersama Badan Anggaran, muncul wacana pembangunan lokasi pembuangan akhir baru untuk memecah ketergantungan KBB terhadap Sarimukti.
Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) khusus untuk wilayah selatan atau pesisir Bandung Barat. Skema ini diyakini dapat memangkas jarak angkut dan beban ritase ke Sarimukti.
Meski demikian, Nur menyebut pemerintah daerah masih melakukan pendalaman kajian. “Pembahasannya masih berjalan. Saat ini sedang dicari lokasi yang sesuai berdasarkan kajian dari Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perumahan dan Permukiman. Beberapa titik sudah direkomendasikan untuk ditelaah lebih lanjut,” jelasnya.
Ia menekankan, langkah tersebut tidak bisa ditunda lagi mengingat persoalan sampah KBB sudah berada di titik mendesak. Tanpa tambahan kapasitas pembuangan, timbunan sampah yang kini tersebar dikhawatirkan terus membengkak.
“Jika kapasitas pembuangan tidak segera ditambah, tumpukan sampah yang kini tersebar di tengah masyarakat dikhawatirkan akan terus bertambah dan memperbesar dampak sosial yang ditimbulkan,” tegas Nur. Bandung Barat, katanya, butuh keputusan cepat sebelum krisis sampah berubah menjadi krisis sosial. (Rustandi)





Posting Komentar